Menurut saya Tuhan sama sekali tak pandai berhitung. Begini sebabnya :
Ketika itu saya melakukan penelitian di sebuah Restoran Masakan Sunda di bilangan Cipinang. Saya berkenalan dengan salah satu penjaga parkir di sana. Seorang bapak tua, dengan perawakan kecil dan sedikit pendek. Kulitnya sudah keriput termakan usia, wajahnya menunjukkan perjuangannya melawan panas matahari yang terik sebagai tukang parkir. Biasanya dia hanya memakai kaos bergambar salah satu partai, dengan topi hijau setianya dan celana yang agak lusuh.
Sebelum masuk ke restoran, biasanya saya berbincang selama 5 sampai 10 menit dengan sang bapak. Dia bilang pemilik restoran ini agak pelit, dia tidak pernah diberi lebih selain uang parkir yang dia dapatkan dan upah seminggu yang sangat tidak mencukupi.
Suatu ketika dari rumah dengan tanpa niat apapun, saya mengambil 3 bungkus roti sobek dan 2 minuman kemasan dalam gelas, total Rp 2500,-
Saya berikan kepada sang bapak. Yang saya agak terkejut bapak tersbut sangat berterimakasih dengan pemberian saya, yang menurut saya tidak seberapa itu. Dengan perasaan tidak enak karena –menurut saya- rasa terimakasih itu berlebihan, saya segera melangkah masuk ke restoran
Ternyata hari itu ada seorang pejabat dari Penjara Lapas Cipinang yang bertandang ke situ. Terbentur kepentingan tugas skripsi, saya ajukan kuisioner juga kepada orang tersebut.
Dia sangat kagum, menurutnya sudah jarang orang yang mau benar-benar meneliti untuk buat sskripsi. Biasanya data asal, atau malah minta dibuatkan orang lain skripsinya.
Selesai mengajukan kuisioner, bapak tersebut memaksa untuk ditemani makan. Dia juga memberi saya uang Rp 50 000 dan memberi pulsa (jangan berpikir tidak baik ya).
Intinya kalau ditotal saya dapat Rp 75 000. Saya benar-benar tidak habis pikir, sampai saya pulang dan saya ceritakan hal ini kepada ibu saya. Dia bertanya memang saya pernah melakukan apa. Baru saya ingat tentang penganan yang saya berikan ke sang bapak.
Tuhan benar-benar tidak bisa berhitung, masa iya 2500 diganti 75000
Baik ya....
Kamis, 09 April 2009
Lihat dari Dua Sisi
Saat ini saya bekerja di bagian regulatory staff, tugas saya adalah mendaftarkan produk-produk yang diproduksi pabrik tempat saya bekerja ke Badan POM.
Suatu pagi telepon berdering di meja saya. Di seberang sana adalah orang marketing, dia mengeluh sulitnya menembus peraturan-peraturan Badan POM mengenai apa-apa saja yang harus dan bisa ditampilkan di label. Label adalah bagian penghubung antara konsumen dan produsen, sebagai marketing tugasnya lah membuat desain label semenarik mungkin, dan kendalanya adalah peraturan.
Hari ini sekali lagi saya mendengar keluhan tentang Badan POM, dari seorang formulator. Orang yang tuganya membuat formulasi produk. Sulit sekali katanya “Badan POM maunya apa sih?”
Pernah pula suatu kali (sering kali kadang) di media massa baik televisi maupun media cetak kita dengar adanya produk-produk berbahaya di pasaran. Telinga saya menangkap seperti ini “Badan POM gimana sih, masa produk berbahaya gitu bisa dilolosin?”
Hmmm... membuatku tergelitik untuk berpikir.
Sebegitu ketatnya peraturan-peraturan di Badan POM saja banyak produk berbahaya bisa beredar di pasaran, apalagi kalau Badan Pom sangat longgar.
Itu yang saya katakan kepada orang marketing itu.
“Mba.. coba deh mba menempatkan diri jadi konsumen. Pasti khawatir kalau bayi nya makan-makan yang tidak jelas dan ternyata di label dan isinya tidak sesuai”
Sang marketing berdehem setuju. “Iya juga sih Mba.”
Yah.. hanya salah satu contoh. Dalam banyak hal ternyata seru kalau kita melihat dari berbagai sisi ketika masalah kita hadapi.
Suatu pagi telepon berdering di meja saya. Di seberang sana adalah orang marketing, dia mengeluh sulitnya menembus peraturan-peraturan Badan POM mengenai apa-apa saja yang harus dan bisa ditampilkan di label. Label adalah bagian penghubung antara konsumen dan produsen, sebagai marketing tugasnya lah membuat desain label semenarik mungkin, dan kendalanya adalah peraturan.
Hari ini sekali lagi saya mendengar keluhan tentang Badan POM, dari seorang formulator. Orang yang tuganya membuat formulasi produk. Sulit sekali katanya “Badan POM maunya apa sih?”
Pernah pula suatu kali (sering kali kadang) di media massa baik televisi maupun media cetak kita dengar adanya produk-produk berbahaya di pasaran. Telinga saya menangkap seperti ini “Badan POM gimana sih, masa produk berbahaya gitu bisa dilolosin?”
Hmmm... membuatku tergelitik untuk berpikir.
Sebegitu ketatnya peraturan-peraturan di Badan POM saja banyak produk berbahaya bisa beredar di pasaran, apalagi kalau Badan Pom sangat longgar.
Itu yang saya katakan kepada orang marketing itu.
“Mba.. coba deh mba menempatkan diri jadi konsumen. Pasti khawatir kalau bayi nya makan-makan yang tidak jelas dan ternyata di label dan isinya tidak sesuai”
Sang marketing berdehem setuju. “Iya juga sih Mba.”
Yah.. hanya salah satu contoh. Dalam banyak hal ternyata seru kalau kita melihat dari berbagai sisi ketika masalah kita hadapi.
Selasa, 10 Maret 2009
Ibuku Cerdik Sekali
Jakarta panas sekali. Seringkali saya melihat anak-anak kecil berlari-larian dengan semangatnya tanpa menghiraukan hawa panas ini. Seletih mereka bermain dan berlarian, biasanya yang pertama kali mereka serbu adalah warung warung jajanan, dan tukang es.
Sluurrrppp.... segaarrr rasanya setelah meneguk air es tersebut.
Ibuku adalah salah seorang yang menangkap dengan jeli peristiwa ini. Asal tahu saja, ide yang terlintas di kepala ibuku adalah dengan segera ia membeli sebuah freezer untuk membuat es batu. Padahal di rumah sudah ada dua.
Kata ibuku dari sebuah freezer ia bisa menjual es batu rata-rata sebanyak 20 buah es batu sehari jadi kira-kira Rp 10.000 bisa di dapat. Jika dalam satu bulan ada 30 hari, maka ia bisa mengantongi uang sebesar Rp 300.000. Kalau dibandingkan dengan penyewaan rumah (kontrakan)hampir sama. Sekitar rumahku harga sewa kontrakan berkisar 250 sampai 700 ribu per bulan. Kontrakan perlu lahan, harus berhubngan dengan penghuninya, belum lagi tidak jarang ada konflik jika ternyata sang penyewa agak mangkir membayar.
Nah... maka dari itu, ibuku membeli dua freezer, jadi dia punya dua kontrakan katanya
Hihihihi.... :)
Ibuku cerdik sekali
Sluurrrppp.... segaarrr rasanya setelah meneguk air es tersebut.
Ibuku adalah salah seorang yang menangkap dengan jeli peristiwa ini. Asal tahu saja, ide yang terlintas di kepala ibuku adalah dengan segera ia membeli sebuah freezer untuk membuat es batu. Padahal di rumah sudah ada dua.
Kata ibuku dari sebuah freezer ia bisa menjual es batu rata-rata sebanyak 20 buah es batu sehari jadi kira-kira Rp 10.000 bisa di dapat. Jika dalam satu bulan ada 30 hari, maka ia bisa mengantongi uang sebesar Rp 300.000. Kalau dibandingkan dengan penyewaan rumah (kontrakan)hampir sama. Sekitar rumahku harga sewa kontrakan berkisar 250 sampai 700 ribu per bulan. Kontrakan perlu lahan, harus berhubngan dengan penghuninya, belum lagi tidak jarang ada konflik jika ternyata sang penyewa agak mangkir membayar.
Nah... maka dari itu, ibuku membeli dua freezer, jadi dia punya dua kontrakan katanya
Hihihihi.... :)
Ibuku cerdik sekali
Senin, 09 Maret 2009
Are They Couple
Suatu hari saya bertiga dengan teman saya jalan ke sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Bekasi Barat. Setelah keliling-keliling beberapa lama, kami tiba di stand sepatu.
Agak lelah dan sedikit jenuh, saya duduk. Iseng, mata saya berkeliling melihat ke sekitar. Ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang menjajal sepatu. Sang perempuan sedikit memberi saran, dan sang lelaki bertanya "Bener bagus?"... "Bagus kok.." sang perempuan menjawab.
Grogi, malu-malu, itu yang terlihat dari ekspresi sang perempuan. Namun dengan usaha keras dia bisa menutupinya dari sang laki-laki. Mereka berusaha biasa.
Sang perempuan memanggil penjaga, membawa sepatu tersebut untuk ditukar dengan bon, dan embawanya kembali kepada sang laki-laki.
Hmmm... are they couple? Terlintas pertanyaan itu di benak saya. Sang perempuan jelas sekali ingin terlihat sebagai teman, tapi,,, sebagai perempuan juga sepertinya saya tahu kalau dia sedikit menaruh hati pada sang laki-laki.
Mereka berdua pun berjalan menjauh ke kasir. Agak berjauhan satu sama lain.
Are they couple?
Agak lelah dan sedikit jenuh, saya duduk. Iseng, mata saya berkeliling melihat ke sekitar. Ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang menjajal sepatu. Sang perempuan sedikit memberi saran, dan sang lelaki bertanya "Bener bagus?"... "Bagus kok.." sang perempuan menjawab.
Grogi, malu-malu, itu yang terlihat dari ekspresi sang perempuan. Namun dengan usaha keras dia bisa menutupinya dari sang laki-laki. Mereka berusaha biasa.
Sang perempuan memanggil penjaga, membawa sepatu tersebut untuk ditukar dengan bon, dan embawanya kembali kepada sang laki-laki.
Hmmm... are they couple? Terlintas pertanyaan itu di benak saya. Sang perempuan jelas sekali ingin terlihat sebagai teman, tapi,,, sebagai perempuan juga sepertinya saya tahu kalau dia sedikit menaruh hati pada sang laki-laki.
Mereka berdua pun berjalan menjauh ke kasir. Agak berjauhan satu sama lain.
Are they couple?
Rabu, 04 Maret 2009
Bapak
01 November 2006
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja. Tempat kerjaku di Cakung, Jakarta Timur, hanya berjarak sekitar 20 sampai 25 menit perjalanan dengan mengendarai sepeda motor.
Hari pertama aku masuk, aku begitu takjub. Tempatku bekerja merupakan salah satu anak perusahaan terkemuka di Indonesia. Produk-produk yang dihasilkan cukup terkenal. Salah satunya adalah susu diet khusus untuk penderita diabetes. Bapakku rutin meminum susu tersebut
Sebagai anak baru, hari pertama diisi dengan pengenalan lingkungan kerja. Pagi hari, manajerku mem-briefing aku, setelah itu atasan langsung aku. Satu hal, selama aku berada satu hari di tempat kerja baruku, aku ingin rasanya cepat pulang dan bercerita mengnai hal itu kepada bapakku, ia pasti sangat exited.
Saatnya tiba, dengan semangat aku pulang ke rumah. Dalam pikiranku aku sangat ingin bercerita ... "Bapak,,, bapak tahu nggak? Umi kan kerja di tempat pabrik susu yang bapak rajin minum looh"
Wahh,,, tiba juga di rumah, aku berlari-lari kecil, mengucap salam, dan segera ke kamar Bapak.
Astagfirullah,,,,, !!!
Aku lupa,,,, kamarnya kosong, dan bapakku tak akan pernah menyambutku datang, dia tak akan pernah bisa mendengar ceritaku tentang aku bekerja di tempat pembuatan susu yang rutin ia minum.
Aku lupa,,,, kalau ayahku sudah tiada. Dia sudah meninggal ,,,,,
Tapi aku tetap bercerita dalam doaku, ketika menghadap Nya,,,
Tuhan... aktu titip salam untuk bapakku. Bapak,,, mulai hari ini, umi kerja di tempat pembuatan susu yang biasa bapak minum loh.
Doain umi selalu yaa
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja. Tempat kerjaku di Cakung, Jakarta Timur, hanya berjarak sekitar 20 sampai 25 menit perjalanan dengan mengendarai sepeda motor.
Hari pertama aku masuk, aku begitu takjub. Tempatku bekerja merupakan salah satu anak perusahaan terkemuka di Indonesia. Produk-produk yang dihasilkan cukup terkenal. Salah satunya adalah susu diet khusus untuk penderita diabetes. Bapakku rutin meminum susu tersebut
Sebagai anak baru, hari pertama diisi dengan pengenalan lingkungan kerja. Pagi hari, manajerku mem-briefing aku, setelah itu atasan langsung aku. Satu hal, selama aku berada satu hari di tempat kerja baruku, aku ingin rasanya cepat pulang dan bercerita mengnai hal itu kepada bapakku, ia pasti sangat exited.
Saatnya tiba, dengan semangat aku pulang ke rumah. Dalam pikiranku aku sangat ingin bercerita ... "Bapak,,, bapak tahu nggak? Umi kan kerja di tempat pabrik susu yang bapak rajin minum looh"
Wahh,,, tiba juga di rumah, aku berlari-lari kecil, mengucap salam, dan segera ke kamar Bapak.
Astagfirullah,,,,, !!!
Aku lupa,,,, kamarnya kosong, dan bapakku tak akan pernah menyambutku datang, dia tak akan pernah bisa mendengar ceritaku tentang aku bekerja di tempat pembuatan susu yang rutin ia minum.
Aku lupa,,,, kalau ayahku sudah tiada. Dia sudah meninggal ,,,,,
Tapi aku tetap bercerita dalam doaku, ketika menghadap Nya,,,
Tuhan... aktu titip salam untuk bapakku. Bapak,,, mulai hari ini, umi kerja di tempat pembuatan susu yang biasa bapak minum loh.
Doain umi selalu yaa
Selasa, 24 Februari 2009
Manusia itu Rapuh Sekali
Pagi ini seperti biasa saya berangkat dari rumah ke kantor saya di bilangan Cakung mengendarai motor.
Sebenarnya rute normal saya adalah lewat Kawasan Industri Pulogadung, lalu lurus melewati Jalan Raya Bekasi ke arah Cakung.
Namun akhir-akhir ini saya lebih senang lewat memutar, melalui Walikotamadya Jakarta Timur, Pondok Kopi.
Memang rute yang harus saya lalui bisa dikatakan dua kali lipat, namun secara waktu ternyata justru lebih cepat karena sama sekali tidak macet.
Hari ini agaknya berbeda, macet sekali. Kendaraan-kendaraan yang ke arah Pondok Kopi nyaris tidak bergerak. "Aneh ... " pikir saya, karena jarang sekali hal ini terjadi.
Tiba diperempatan rumah susun, dekat dengan stasiun kereta api tergolek sesosok tubuh yang ditutupi oleh koran dan dikerumuni orang-orang.
Kecelakaan rupanya telah terjadi, dan ini yang menyebabkan kemacetan.
Tergerak oleh rasa ingin tahu, saya tepikan motor saya dan bertanya apa yang terjadi.
Orang tersebut bercerita bahwa, korban adalah pengendara motor yang sepertinya akan berangkat kerja.
Tidak sengaja tersenggol pengendara motor lain dan jatuh ke arah kanan. Ketika itu pula lewat sebuah metro mini dengan kecepatan tinggi
melindas sang pengendara motor. Ia pun tewas
Kita tidak pernah tahu kapan ajal kita, satu yang kita tahu, ajal selalu berada dekat dengan kita.
Ajal tidak untuk ditakuti, diwaspadai. Tapi kita harus mempersiapkan diri.
Mari menebar banyak kebaikan yuk,,, karena kita tidak pernah tahu kapan waktu kita.
Seperti juga sang pengendara motor itu
Sebenarnya rute normal saya adalah lewat Kawasan Industri Pulogadung, lalu lurus melewati Jalan Raya Bekasi ke arah Cakung.
Namun akhir-akhir ini saya lebih senang lewat memutar, melalui Walikotamadya Jakarta Timur, Pondok Kopi.
Memang rute yang harus saya lalui bisa dikatakan dua kali lipat, namun secara waktu ternyata justru lebih cepat karena sama sekali tidak macet.
Hari ini agaknya berbeda, macet sekali. Kendaraan-kendaraan yang ke arah Pondok Kopi nyaris tidak bergerak. "Aneh ... " pikir saya, karena jarang sekali hal ini terjadi.
Tiba diperempatan rumah susun, dekat dengan stasiun kereta api tergolek sesosok tubuh yang ditutupi oleh koran dan dikerumuni orang-orang.
Kecelakaan rupanya telah terjadi, dan ini yang menyebabkan kemacetan.
Tergerak oleh rasa ingin tahu, saya tepikan motor saya dan bertanya apa yang terjadi.
Orang tersebut bercerita bahwa, korban adalah pengendara motor yang sepertinya akan berangkat kerja.
Tidak sengaja tersenggol pengendara motor lain dan jatuh ke arah kanan. Ketika itu pula lewat sebuah metro mini dengan kecepatan tinggi
melindas sang pengendara motor. Ia pun tewas
Kita tidak pernah tahu kapan ajal kita, satu yang kita tahu, ajal selalu berada dekat dengan kita.
Ajal tidak untuk ditakuti, diwaspadai. Tapi kita harus mempersiapkan diri.
Mari menebar banyak kebaikan yuk,,, karena kita tidak pernah tahu kapan waktu kita.
Seperti juga sang pengendara motor itu
Tuhan itu Sibuk
Makan siang tiba, agak jenuh dengan menu catering yang disediakan kantor tempat saya bekerja saya memutuskan makan di luar bersama teman-teman saya.
Saya menunggu teman-teman yang agak berjalan jauh dibelakang saya di depan pos satpam yang ada di muka gerbang kantor kami. Clekit ,,,, aduh,,, seekor semut menggigit tangan saya.
Saya perhatikan semut yang berjalan beriringan, saya ikuti jalur perjalanan mereka dengan pandangan mata saya. Mereka berarak di batang pohon, ratusan jumlahnya. Ternyata banyak makhluk hidup penghuni pohon itu, tidak hanya semut tapi juga jamur, serangga, burung, dan banyak kehidupan kecil lain yang tak kasat mata saling menopang satu sama lain. Bahkan pohon itupun sendiri adalaha sebuah kehidupan.
Luar biasa, semua itu hanya pada sebuah pohon. Bisakah terbayang kehidupan seperti itu juga ada pada pohon-pohon lain? Bisakah terbayang bahwa kehidupan lain juga tersebar di banyak tempat. Yang paling luar biasa dari kesemua hal tadi adalah bahwa semua makhluk itu tidak kekurangan makan dan benar-benar terurus.
Tuhan ,,, sedang sibuk sekali Dia. Setiap detik, setiap manit, setiap waktu, namun Dia tidak juga lupa pada kita. Sebuah, seorang, individu, sejumput, seekor. Tapi Dia tidak melupakan kita.
Tuhan itu sibuk, tapi Dia tidak sok sibuk.
Sebuah tepukan lembut menyadarkan pengembaraan alam pikiranku. “Hey, , , ngelamun. Makan siang yuk”.
Saya menunggu teman-teman yang agak berjalan jauh dibelakang saya di depan pos satpam yang ada di muka gerbang kantor kami. Clekit ,,,, aduh,,, seekor semut menggigit tangan saya.
Saya perhatikan semut yang berjalan beriringan, saya ikuti jalur perjalanan mereka dengan pandangan mata saya. Mereka berarak di batang pohon, ratusan jumlahnya. Ternyata banyak makhluk hidup penghuni pohon itu, tidak hanya semut tapi juga jamur, serangga, burung, dan banyak kehidupan kecil lain yang tak kasat mata saling menopang satu sama lain. Bahkan pohon itupun sendiri adalaha sebuah kehidupan.
Luar biasa, semua itu hanya pada sebuah pohon. Bisakah terbayang kehidupan seperti itu juga ada pada pohon-pohon lain? Bisakah terbayang bahwa kehidupan lain juga tersebar di banyak tempat. Yang paling luar biasa dari kesemua hal tadi adalah bahwa semua makhluk itu tidak kekurangan makan dan benar-benar terurus.
Tuhan ,,, sedang sibuk sekali Dia. Setiap detik, setiap manit, setiap waktu, namun Dia tidak juga lupa pada kita. Sebuah, seorang, individu, sejumput, seekor. Tapi Dia tidak melupakan kita.
Tuhan itu sibuk, tapi Dia tidak sok sibuk.
Sebuah tepukan lembut menyadarkan pengembaraan alam pikiranku. “Hey, , , ngelamun. Makan siang yuk”.
Semua Ada Waktunya
Semua ada waktunya. Kalimat itu yang akhir-akhir ini selalu berputar dan tercamkan di benak saya. Saya adalah pegawai dengan status kontrak, meskipun tempat saya bekerja adalah salah satu perusahaan yang cukup besar dan mempunyai nama di Indonesia namun sebagai seorang manusia keinginan untuk lebih tentu ada.
Usaha, tentu saja sudah banyak saya jalani, mengikuti jobfair contohnya. Depok, Bogor, Jakarta, saya ikuti. Koran-koran yang berisi lowongan pekerjaan, rutin saya beli, nyaris setiap minggu empat sampai lima amplop coklat terkirim via pos. Saya juga bergabung dengan beberapa situs pencari kerja, sehingga email saya penuh dengan notifikasi sesuai dengan kriteria dan fungsi-fungsi yang saya masukkan ketika mendaftar. Sampai lowongan PNS, saya juga tidak absen. Tahun 2008 lalu, lebih dari tiga lowongan PNS saya mendaftar.
Di kantor, usaha juga saya lakukan, saya bicara dengan atasan saya langsung mengenai nasib saya, manajer, sampai senior manajerpun saya datangi. Tetap masih nihil. Saya hanya bisa berusaha berdoa dan tentu saja meminta doa dari orang-orang terdekat saya. Namun selama dua tahun, hasilnya nihil.
Hingga pada satu titik, suatu malam, saya bangun membasuh wajah saya dengan air dan mendekatiNya.
“Ya Tuhanku, sebagai manusia, inilah yang saya bisa. Inilah kemampuan dan daya upaya saya”
“Ya Tuhanku, saya tahu kau Tahu yang kubutuh, Kau tahu kapan aku butuh. Kupasrahkan semuanya padaMu”
Kepasrahan....
Dan esoknya, senior manajer saya memanggil saya, dia mengatakan aku akan dipindah ke lain bagian dan akan diusahakan untuk berubah status kepegawaian saya.
Syukur.. hanya itu yang terucap dari bibir saya.
Saya memiliki seorang teman, setiap saya berkeluh kesah. Satu yang selalu dia ucapkan :
“Sabar ya Mba, semua ada waktunya.........”
Ya, kita memang harus bersabar karena Dia mengabulkan yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Usaha, tentu saja sudah banyak saya jalani, mengikuti jobfair contohnya. Depok, Bogor, Jakarta, saya ikuti. Koran-koran yang berisi lowongan pekerjaan, rutin saya beli, nyaris setiap minggu empat sampai lima amplop coklat terkirim via pos. Saya juga bergabung dengan beberapa situs pencari kerja, sehingga email saya penuh dengan notifikasi sesuai dengan kriteria dan fungsi-fungsi yang saya masukkan ketika mendaftar. Sampai lowongan PNS, saya juga tidak absen. Tahun 2008 lalu, lebih dari tiga lowongan PNS saya mendaftar.
Di kantor, usaha juga saya lakukan, saya bicara dengan atasan saya langsung mengenai nasib saya, manajer, sampai senior manajerpun saya datangi. Tetap masih nihil. Saya hanya bisa berusaha berdoa dan tentu saja meminta doa dari orang-orang terdekat saya. Namun selama dua tahun, hasilnya nihil.
Hingga pada satu titik, suatu malam, saya bangun membasuh wajah saya dengan air dan mendekatiNya.
“Ya Tuhanku, sebagai manusia, inilah yang saya bisa. Inilah kemampuan dan daya upaya saya”
“Ya Tuhanku, saya tahu kau Tahu yang kubutuh, Kau tahu kapan aku butuh. Kupasrahkan semuanya padaMu”
Kepasrahan....
Dan esoknya, senior manajer saya memanggil saya, dia mengatakan aku akan dipindah ke lain bagian dan akan diusahakan untuk berubah status kepegawaian saya.
Syukur.. hanya itu yang terucap dari bibir saya.
Saya memiliki seorang teman, setiap saya berkeluh kesah. Satu yang selalu dia ucapkan :
“Sabar ya Mba, semua ada waktunya.........”
Ya, kita memang harus bersabar karena Dia mengabulkan yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Make a choice
23 Februari 2009
Memilih, setiap kali manusia harus selalu memilih. Tidak jarang perasaan terlibat ketika keputusan harus dibuat. Tapi tidak sedikit keputusan diambil dengan dasar pertimbangan akal, informasi, prioritas, dan tanggung jawab.
Hari ini misalnya, saya harus memilih. Bisa dikatakan sepele, namun sekecil apapun saya harus memilih.
Salah seorang teman saya berulang tahun di Bulan Januari, akibat kesibukannya dia baru bisa mentraktir kami sore ini.
Alangkah tidak tepat waktunya, karena pagi hari ini ada teman saya yang lain meminta tolong untuk mengantar dia ke provider selular guna mengganti kartu chipnya yang agak rusak.
Jadi saya harus memilih makan dengan mantan teman-teman saya satu departemen, delapan orang. Atau mengantar seorang teman saya ke provider selular untuk mengganti kartu chipnya yang rusak.
Pilihan jatuh untuk mengantar teman saya ke provider. Alasannya adalah skala prioritas dan amanah.
Sepele memang. Tapi ingat, komitmen kita sangat diperlukan saat sebuah keputusan diambil. Dalam hidup, banyak keputusan-keputusan besar lain yang harus kita ambil. Sering kali malah dampaknya sangat besar jika kita salah mengambil keputusan.
Memilih, setiap kali manusia harus selalu memilih. Tidak jarang perasaan terlibat ketika keputusan harus dibuat. Tapi tidak sedikit keputusan diambil dengan dasar pertimbangan akal, informasi, prioritas, dan tanggung jawab.
Hari ini misalnya, saya harus memilih. Bisa dikatakan sepele, namun sekecil apapun saya harus memilih.
Salah seorang teman saya berulang tahun di Bulan Januari, akibat kesibukannya dia baru bisa mentraktir kami sore ini.
Alangkah tidak tepat waktunya, karena pagi hari ini ada teman saya yang lain meminta tolong untuk mengantar dia ke provider selular guna mengganti kartu chipnya yang agak rusak.
Jadi saya harus memilih makan dengan mantan teman-teman saya satu departemen, delapan orang. Atau mengantar seorang teman saya ke provider selular untuk mengganti kartu chipnya yang rusak.
Pilihan jatuh untuk mengantar teman saya ke provider. Alasannya adalah skala prioritas dan amanah.
Sepele memang. Tapi ingat, komitmen kita sangat diperlukan saat sebuah keputusan diambil. Dalam hidup, banyak keputusan-keputusan besar lain yang harus kita ambil. Sering kali malah dampaknya sangat besar jika kita salah mengambil keputusan.
Sabtu, 21 Februari 2009
Angkot ...oh Nasibmu
20 Februari 2009
Hari itu saya menginap di kosan teman di bilangin Pondok Ungu, Bekasi. Dengan demikian pagi hari saya ke kantor saya yang berada di Cakung menggunakan angkutan umum. Kebiasaan saya jika naik angkot saya lebih senang duduk di depan dekat supir, dan pagi itu kebetulan sopir angkot yang saya naiki adalah orang yang ramah. Sejak saya naik, dengan sumringah ia menyapa saya, dan mengajak saya berbincang-bincang.
Keluhan, itu yang terlontar dari laki-laki paruh baya berwajah bersahaja itu. Ia berkeluh sulit sekali mencari penumpang saat ini. Tidak hanya pagi ini, tetapi hampir setiap hari angkotnya sepi penumpang. Menurutnya menjadi supir di masa sekarang ini lebih sulit, beda dibandingkan saat masa kepemimpinan Suharto dulu. Kala itu dia bisa membawa sedikit uang lebih untuk keluarganya, kini terkadang ia harus menombok untuk menutupi uang setorannya. Menurutnya pula, saat ini sulit penumpang karena makin banyak yang memiliki motor. Mudah sekali kini memiliki motor, hanya dengan uang Rp 500 ribu sampai satu juta saja sudah bisa memiliki motor. Bahkan tanpa uang mukapun bisa memiliki motor dengan sistem kredit.
Ia berharap ada kebijakan pemerintah terhadap hal ini. Sambil menunjuk angkot-angkot lain yang juga sepi penumpang. Aku melirik ke arah yang dia tunjuk juga ke belakang, saat itu memang hanya ada dua orang penumpang di jok belakang dan saya sendiri.
Sambil mendengarkan cerita sang bapak pengemudi, saya sedikit berpikir. Sebagai pengendara motor, sebab saya juga pengendara motor, alasan utama kami adalah dengan mengendarai motor bisa fleksibel dalam menghadapi kemacetan. Kedua, dilihat dari waktu dan biaya, mengendarai motor bisa menjadi pilihan alternatif yang sangat membantu karena bisa menghemat waktu dan biaya. Dengan mengendarai motor, satu liter bensin bisa cukup untuk satu hari. Kenyaman angkutan umum yang kini kian diabaikan, juga salah satu alasan mengapa banyak orang memilih memiliki motor.
Namun kini memang terlihat carut marutnya aturan jalan raya, justru karena banyaknya pengendara motor. Dalam rangka memecah kemacetan, tidak jarang hak-hak pengguna jalan lain seperti pejalan kaki, terabaikan.
Pemerintah memang harus membuat keputusan. Bagaimapun pasti ada yang dikorbankan, namun sebagai gudangnya para pakar dari berbagai bidang pasti ada hal yang bisa diminimalisir jumlah yang dikorbankan tersebut.
Jika pembatasan kendaraan bermotor pribadi diberlakukan, akan berdampak pada industri otomotif dan kepercayaan investor. Dampak lain, adalah para pegawai yang menggantungkan hidup mereka. Sepupu saya yang bekerja di salah satu perusahaan sparepart otomotif mengatakan produksi mereka turun akibat krisis global. Terbayangkah jika pembatasan diberlakukan?
Dari segi ekologi, banyak kendaraan, memang juga sangat merusak. Contoh saja lingkungan Pulogadung dikala macet, luar biasa, manakala asap metromini, motor, truk-truk besar, belum lagi perusahaan-perusahaan industri pengecoran logam kala beroperasi. Sempurna !
Mana yang harus dipilih?
Para investor, para pengendara motor, para pengemudi, ekologi, tinggal kita tunggu ke depannya.
Saya hanya berharap yang terbaik.
"Pak,,, kiri Pak"
Untung saya sadar sebelum terlewat dari lokasi kantor saya... saya rogoh kocek saya, dan menyerahkan dua lembar ribuan "Terimakasih ya neng". Dan saya balas dengan senyuman,,,
Hari itu saya menginap di kosan teman di bilangin Pondok Ungu, Bekasi. Dengan demikian pagi hari saya ke kantor saya yang berada di Cakung menggunakan angkutan umum. Kebiasaan saya jika naik angkot saya lebih senang duduk di depan dekat supir, dan pagi itu kebetulan sopir angkot yang saya naiki adalah orang yang ramah. Sejak saya naik, dengan sumringah ia menyapa saya, dan mengajak saya berbincang-bincang.
Keluhan, itu yang terlontar dari laki-laki paruh baya berwajah bersahaja itu. Ia berkeluh sulit sekali mencari penumpang saat ini. Tidak hanya pagi ini, tetapi hampir setiap hari angkotnya sepi penumpang. Menurutnya menjadi supir di masa sekarang ini lebih sulit, beda dibandingkan saat masa kepemimpinan Suharto dulu. Kala itu dia bisa membawa sedikit uang lebih untuk keluarganya, kini terkadang ia harus menombok untuk menutupi uang setorannya. Menurutnya pula, saat ini sulit penumpang karena makin banyak yang memiliki motor. Mudah sekali kini memiliki motor, hanya dengan uang Rp 500 ribu sampai satu juta saja sudah bisa memiliki motor. Bahkan tanpa uang mukapun bisa memiliki motor dengan sistem kredit.
Ia berharap ada kebijakan pemerintah terhadap hal ini. Sambil menunjuk angkot-angkot lain yang juga sepi penumpang. Aku melirik ke arah yang dia tunjuk juga ke belakang, saat itu memang hanya ada dua orang penumpang di jok belakang dan saya sendiri.
Sambil mendengarkan cerita sang bapak pengemudi, saya sedikit berpikir. Sebagai pengendara motor, sebab saya juga pengendara motor, alasan utama kami adalah dengan mengendarai motor bisa fleksibel dalam menghadapi kemacetan. Kedua, dilihat dari waktu dan biaya, mengendarai motor bisa menjadi pilihan alternatif yang sangat membantu karena bisa menghemat waktu dan biaya. Dengan mengendarai motor, satu liter bensin bisa cukup untuk satu hari. Kenyaman angkutan umum yang kini kian diabaikan, juga salah satu alasan mengapa banyak orang memilih memiliki motor.
Namun kini memang terlihat carut marutnya aturan jalan raya, justru karena banyaknya pengendara motor. Dalam rangka memecah kemacetan, tidak jarang hak-hak pengguna jalan lain seperti pejalan kaki, terabaikan.
Pemerintah memang harus membuat keputusan. Bagaimapun pasti ada yang dikorbankan, namun sebagai gudangnya para pakar dari berbagai bidang pasti ada hal yang bisa diminimalisir jumlah yang dikorbankan tersebut.
Jika pembatasan kendaraan bermotor pribadi diberlakukan, akan berdampak pada industri otomotif dan kepercayaan investor. Dampak lain, adalah para pegawai yang menggantungkan hidup mereka. Sepupu saya yang bekerja di salah satu perusahaan sparepart otomotif mengatakan produksi mereka turun akibat krisis global. Terbayangkah jika pembatasan diberlakukan?
Dari segi ekologi, banyak kendaraan, memang juga sangat merusak. Contoh saja lingkungan Pulogadung dikala macet, luar biasa, manakala asap metromini, motor, truk-truk besar, belum lagi perusahaan-perusahaan industri pengecoran logam kala beroperasi. Sempurna !
Mana yang harus dipilih?
Para investor, para pengendara motor, para pengemudi, ekologi, tinggal kita tunggu ke depannya.
Saya hanya berharap yang terbaik.
"Pak,,, kiri Pak"
Untung saya sadar sebelum terlewat dari lokasi kantor saya... saya rogoh kocek saya, dan menyerahkan dua lembar ribuan "Terimakasih ya neng". Dan saya balas dengan senyuman,,,
Minggu, 15 Februari 2009
Golput,,,,Yes or No ??
15 Februari 2009
Golput,,,, Yes or No??
Pagi ini saya diminta menjadi moderator sebuah diskusi kecil di Ikatan Remaja Masjid yang saat ini saya menjadi anggotanya. Dengan pembicaranya adalah Budi Ristianto Sekjen Political Party Watch, dan KH. Drs. M. Machdum HS, MA Sekjen MUI Jakarta Timur.
Politik, sebenernya adalah area yang saya sendiri ingin menjadi netral. Saya berusaha memandangnya dari sudut pandang orang kecil dan awam, karena itulah saya sekarang.
Namun peran saya sebagai moderator pagi tadi membuat saya ingin berbagi pengalaman. Fatwa MUI bahwa GOLPUT itu haram mengundang banyak perdebatan ada yang pro dan tentu saja ada yang kontra. Terlepas dari semua itu, berikut adalah hasil diskusi yang saya dapat tadi pagi :
1. Bahwa GOLPUT adalah suatu peristiwa atau bisa disebut fenomena yang pada negara demokrasi bisa saja terjadi, terkait sistem yang digunakan yakni pemilihan langsung yang dilakukan oleh rakyat.
2. Bahwa kenapa GOLPUT bisa terjadi adalah sebuah bentuk rasa kejenuhan masyarakat selama ini dengan janji-janji para caleg dan partai. Dilihat dari historinya, rakyat merasa siapapun dan apapun yang mereka pilih tidak ada perubahan yang terlihat signifikan terlihat.
3. Ditarik kebelakang, bahwa sebuah PEMILU yang diselenggarakan pemerintah adalah sebuah daya dan upaya besar. Menghabiskan tidak saja dana yang tidak kalah besarnya, namun juga tenaga dan pikiran banyak pihak menggunakan uang rakyat. Sehingga GOLPUT, dianggap sebuah pemubaziran, yang langkah sayang sekali jika dilakukan.
4. Harus diingat, bahwa sebagai warga negara yang baik tidak hanya hak yang dimiliki namun juga kewajiban. Salah satunya adalah memilih pemimpin yang baik yang akan memegang jalannya kendaraan pemerintahan Indonesia ini. Adalah keniscayaan memiliki pemimpin yang buruk itu lebih baiki, daripada sama sekali tidak ada pemimpin di suatu negeri.
Itulah yang saya dapat. Manakah yang saya anut, GOLPUT,,,, Yes or No?? Disini saya tidak akan menggiring opini saya, menurut saya tiap orang punya pandangan tersendiri, alasan sendiri, dan buah pikiran sendiri. Manakah yang harus Anda anut? Anda juga punya pandangan, informasi, dan buah pikiran sendiri. Selamat memilih ...........
Golput,,,, Yes or No??
Pagi ini saya diminta menjadi moderator sebuah diskusi kecil di Ikatan Remaja Masjid yang saat ini saya menjadi anggotanya. Dengan pembicaranya adalah Budi Ristianto Sekjen Political Party Watch, dan KH. Drs. M. Machdum HS, MA Sekjen MUI Jakarta Timur.
Politik, sebenernya adalah area yang saya sendiri ingin menjadi netral. Saya berusaha memandangnya dari sudut pandang orang kecil dan awam, karena itulah saya sekarang.
Namun peran saya sebagai moderator pagi tadi membuat saya ingin berbagi pengalaman. Fatwa MUI bahwa GOLPUT itu haram mengundang banyak perdebatan ada yang pro dan tentu saja ada yang kontra. Terlepas dari semua itu, berikut adalah hasil diskusi yang saya dapat tadi pagi :
1. Bahwa GOLPUT adalah suatu peristiwa atau bisa disebut fenomena yang pada negara demokrasi bisa saja terjadi, terkait sistem yang digunakan yakni pemilihan langsung yang dilakukan oleh rakyat.
2. Bahwa kenapa GOLPUT bisa terjadi adalah sebuah bentuk rasa kejenuhan masyarakat selama ini dengan janji-janji para caleg dan partai. Dilihat dari historinya, rakyat merasa siapapun dan apapun yang mereka pilih tidak ada perubahan yang terlihat signifikan terlihat.
3. Ditarik kebelakang, bahwa sebuah PEMILU yang diselenggarakan pemerintah adalah sebuah daya dan upaya besar. Menghabiskan tidak saja dana yang tidak kalah besarnya, namun juga tenaga dan pikiran banyak pihak menggunakan uang rakyat. Sehingga GOLPUT, dianggap sebuah pemubaziran, yang langkah sayang sekali jika dilakukan.
4. Harus diingat, bahwa sebagai warga negara yang baik tidak hanya hak yang dimiliki namun juga kewajiban. Salah satunya adalah memilih pemimpin yang baik yang akan memegang jalannya kendaraan pemerintahan Indonesia ini. Adalah keniscayaan memiliki pemimpin yang buruk itu lebih baiki, daripada sama sekali tidak ada pemimpin di suatu negeri.
Itulah yang saya dapat. Manakah yang saya anut, GOLPUT,,,, Yes or No?? Disini saya tidak akan menggiring opini saya, menurut saya tiap orang punya pandangan tersendiri, alasan sendiri, dan buah pikiran sendiri. Manakah yang harus Anda anut? Anda juga punya pandangan, informasi, dan buah pikiran sendiri. Selamat memilih ...........
Windy full
14 Februari 2009
Windy Full,,,
Pulang pergi ke kantor memenuhi kewajiban keseharian biasa saya jalankan dengan mengendarai motor. Tapi tidak seperti biasanya, sore ini saya merasa angin yang menerpa saya begitu kencang terasa. Kalau diibaratkan saya seperti melayang, ngeri rasanya.
Tiba di rumah, setelah membersihkan badan rileks sejenak sambil menonton berita TV untuk mengetahui perkembangan yang terjadi. Diberitakan bahwa BMG mengeluarkan prakiraan cuaca untuk 2 hari ke depan, angin kencang akan melanda DKI jakarta dan sekitarnya. Di berita tersebut juga ditayangkan sebuah mobil sampai bergeser sejauh beberapa meter karena terpaan angin.
Wah, hati-hati ya untuk semua pengendara kendaraan khususnya pengendara motor. Terbayang donk, mobil yang sedang diparkir saja bias bergeser terkena terpaan angina, apalagi motor yang sedang bergerak.
Windy Full,,,
Pulang pergi ke kantor memenuhi kewajiban keseharian biasa saya jalankan dengan mengendarai motor. Tapi tidak seperti biasanya, sore ini saya merasa angin yang menerpa saya begitu kencang terasa. Kalau diibaratkan saya seperti melayang, ngeri rasanya.
Tiba di rumah, setelah membersihkan badan rileks sejenak sambil menonton berita TV untuk mengetahui perkembangan yang terjadi. Diberitakan bahwa BMG mengeluarkan prakiraan cuaca untuk 2 hari ke depan, angin kencang akan melanda DKI jakarta dan sekitarnya. Di berita tersebut juga ditayangkan sebuah mobil sampai bergeser sejauh beberapa meter karena terpaan angin.
Wah, hati-hati ya untuk semua pengendara kendaraan khususnya pengendara motor. Terbayang donk, mobil yang sedang diparkir saja bias bergeser terkena terpaan angina, apalagi motor yang sedang bergerak.
Umi Fadlillah , , , , ,
28 Desember 2008
Umi Fadlillah Umar
Hari ini 25 tahun yang lalu ibu saya melahirkan saya ke dunia. Di sebuah bangsal rumah sakit bersalin sederhana yang terletak di samping kelurahan Jatinegara.
Umi Fadlillah Umar, saya suka dengan nama itu. Umi artinya ibu, Fadlillah artinya rahmat Allah yang dilimpahkan, dan Umar adalah nama ayah saya.
Tadi saya bilang saya suka nama saya? Dulu sekali bahkan sampai sekarang pun, sebenarnya saya sering kali tersandung kesulitan yang diakibatkan nama saya itu. Fadlillah, tepatnya yang menyebabkan kesulitan saya.
Lihat saja, Fadlillah, huruf “L” nya itu ada tiga. Namun sering kali orang atau instansi manapun dengan semaunya menuliskan nama saya. Nyaris 80 persen kegiatan, atau apapun yang saya ikuti terkait nama saya tidak pernah benar penulisannya. Banyak sertifikat yang saya miliki di rumah dan alhamdulillah, hanya sekitar 80 persen saja yang dituliskan secara benar. Cuma ijazah dan KTP saja yang benar-benar betul penulisannya.
Contoh lain kartu Jamsostek, dua kali saya membuat kartu Jamsostek dan sekali lagi, alhamdulillah dua-duanya salah ketik. Padahal saya sudah benar pada saat pengisian form aplikasi pendaftarannya.
Pernah suatu ketika ada sebuah pelatihan yang diselengarakan remaja masjid di lingkungan rumah saya. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, dengan garang pada form aplikasi di kolom nama pada akhir kolom saya tulis “inget ya, huruf ‘L’ nya tiga” kurang cukup saya langsung mendatangi salah satu panitia yang saya tahu dialah yang nantinya membuat seritfikat pelatihan tersebut, saya pun berkata “inget yah, huruf ‘L’ nya tiga, saya tidak mau terima kalo nama saya salah diketik”
Wuahhh ,,, lama-lama saya terbiasa dengan urus mengurus perubahan nama akibat salah ketik dimanapun.
Tapi seperti yang saya bilang, betapa luar biasa arti nama saya. Maksud yang ingin di usung oleh orang tua saya “Rahmat Allah yang dilimpahkan”. Saya berharap semoga doa orang tua saya melalui nama itu bisa terkabul.
Umi Fadlillah Umar
Hari ini 25 tahun yang lalu ibu saya melahirkan saya ke dunia. Di sebuah bangsal rumah sakit bersalin sederhana yang terletak di samping kelurahan Jatinegara.
Umi Fadlillah Umar, saya suka dengan nama itu. Umi artinya ibu, Fadlillah artinya rahmat Allah yang dilimpahkan, dan Umar adalah nama ayah saya.
Tadi saya bilang saya suka nama saya? Dulu sekali bahkan sampai sekarang pun, sebenarnya saya sering kali tersandung kesulitan yang diakibatkan nama saya itu. Fadlillah, tepatnya yang menyebabkan kesulitan saya.
Lihat saja, Fadlillah, huruf “L” nya itu ada tiga. Namun sering kali orang atau instansi manapun dengan semaunya menuliskan nama saya. Nyaris 80 persen kegiatan, atau apapun yang saya ikuti terkait nama saya tidak pernah benar penulisannya. Banyak sertifikat yang saya miliki di rumah dan alhamdulillah, hanya sekitar 80 persen saja yang dituliskan secara benar. Cuma ijazah dan KTP saja yang benar-benar betul penulisannya.
Contoh lain kartu Jamsostek, dua kali saya membuat kartu Jamsostek dan sekali lagi, alhamdulillah dua-duanya salah ketik. Padahal saya sudah benar pada saat pengisian form aplikasi pendaftarannya.
Pernah suatu ketika ada sebuah pelatihan yang diselengarakan remaja masjid di lingkungan rumah saya. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, dengan garang pada form aplikasi di kolom nama pada akhir kolom saya tulis “inget ya, huruf ‘L’ nya tiga” kurang cukup saya langsung mendatangi salah satu panitia yang saya tahu dialah yang nantinya membuat seritfikat pelatihan tersebut, saya pun berkata “inget yah, huruf ‘L’ nya tiga, saya tidak mau terima kalo nama saya salah diketik”
Wuahhh ,,, lama-lama saya terbiasa dengan urus mengurus perubahan nama akibat salah ketik dimanapun.
Tapi seperti yang saya bilang, betapa luar biasa arti nama saya. Maksud yang ingin di usung oleh orang tua saya “Rahmat Allah yang dilimpahkan”. Saya berharap semoga doa orang tua saya melalui nama itu bisa terkabul.
Langganan:
Postingan (Atom)