Hmm... pertama kali atasan saya bilang saya ditugaskan ke Palembang, yang pertama kali ada dalam kepala saya adalah PEMPEK...
Selesai shalat maghrib, saya, Mba Sylvi, dan Pak Mahfudz (tim dari Dirjen Perkebunan) memutuskan untuk isi perut dulu. Agak gerimis, dan kami bertiga masih buta akan kota Palembang ini. Alhasil, kami hanya makan masakan seafood di tenda kaki lima di seberang hotel kami. KURANG LEZAT, tapi tak apa-apalah, asala perut ini tidak kosong saja.
Selesai makan, Pak Mahfudz memutuskan kembali ke kamar, karena diantara kami bertiga beliau memang sudah agak sepuh. Sedangkan saya dan Mba Sylvi masih memiliki energi yang masih banyak,sehingga mengikuti rasa penasaran saya akan makanan bernama pempek, kami memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan kaki mencar Pempek.
Alhasil, setelah sekitar satu kilo kami berjalan, sampai juga kami di Toko Pempek Candy. Toko pempek Candy ini berdamping-dampingan persis dengan Pempek Pak Raden, hanya saja saya sudah terbiasa dengan Pempek Pak Raden Pasar Minggu, jadi kami meutuskan untuk memasuki Toko Pempek Candy.
Toko ini terletak di bawah jembatan fly over di depan Polda. Rasanya memang benar benar berbeda dengan pempek yang biasa saya makan di Jakarta. ASLI terasa ikannya.
Selain makan di tempat, Pempek Candy juga menyediakan paket-paket yang bisa dibawa pulang. Harga berkisar antara Rp 60.000 - 100.000, setelah puas melihat-lihat daftar menu paket oleh-oleh tersebut, saya memutuskan membeli dua paket, tetapi nanti...
Karena masiih tiga hari lagi saya di palembang.
Puas makan pempek, kami berjalan lagi kembali ke hotel...Beristirahat, menabung energi untuk melaksanakan tugas kami sebaik-baiknya esok pagi
AgriJourney
When the duty meet the joy... When the joy meet the pleasure ...
Rabu, 11 Mei 2011
Pertama kali menginjak Pulau Sumatera
Bertolak dari Jakarta dengan penerbangan pertama, saya dan 2 orang teman saya, kami satu tim.
This is my first DL (Dinas Luar), and this is my first time kaki saya menginjak pulau Sumatera, jadi jujur saja saya agak kikuk. Beruntung saya ditemani mba Sylvia dan Pak Mahfudz mereka sudah berpengalaman dinas ke daerah.
Tiba di kantor Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Selatan, kami disambut dengan ramah oleh Pak Zul dan Pak Syamsul. Tak lama beramah tamah, tim kamipun diantar menghadap Kepala Bagian Produksi Perkebunan dihadapan beliau kami memaparkan tujuan kunjungan kerja kami ke Propinsi Sumatera Selatan.
Jam makan siang pun tiba, tim kami diantar mengunjungi rumah makan ikan patin asli Palembang. Bedanya dengan sup patin di Jakarta, ikan-ikan patin yang dipakai dalam pengolahan masakan asli orang Palembang jarang sekali menggunakan patin kolam. Mereka biasa menggunakan patin sungai yang hidup liar, atau patin keramba (ikan patin yang dibiakkan namun ditempatkan di sungai). Menurut mereka, daging ikan patin kolam kurang sedap, sehingga biasanya konsumen banyak yang tidak tertarik.
Hmm....FYI, sssttt jangan bilang - bilang yah, mungkin karena saya kurang begitu suka ikan patin, jadi buat saya rasa ikan patin yang biasa saya makan di kantin kantor dengan ikan patin di Palembang sini tidak jauh berbeda :P
Selesai makan siang Pak Zul, Pak Syamsul dan tim saya membuat strategi perjalan kami menuju lapangan, karena medan yang akan dilalui cukup berat dan memakan banyak waktu.
Mengingat hal tersebut, Pak Zul mempersilahkan kami untuk segera beristirahat di hotel. Diantar salah satu staf nya, kami beranjak menuju hotel dan beristirahat
Hmmm... i cant wait for my journey tomorrow
Halo Sumatera, Halo Palembang, besok.. aku akan menjelajahimu
Perjalan pun dimulai
Jump up
Jump up
Jump up
in the head
Malam ini, setelah sekian lama, saya berusaha untuk kembali menuangkan apa yang ada dalam kepala saya.
Kini saya hidup dalam lingkungan baru, rumah baru, tempat kerja baru, dengan keluarga kecil yang juga baru.
Yup, my new life journey has begun,
Sebagai awal,
Alhamdulillah, kini saya sudah berstatus double alias sudah menikah, buat saya itu adalah satu bab tersendiri
Kedua, kini saya juga menyandang predikat sebagai pegawai negeri sipil, di Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan..
Status saya yang terakhir inilah, yang menggugah minat saya untuk menulis,
menulis perjalanan saya, yang (sepertinya) akan sering, ke seantero nusantara.
Agri Journey, sengaja saya memilih nama itu (suami saya tepatnya)
karena di balik tugas yang saya emban pada saat dinas ke daerah, banyak sisi menarik yang menggelitik saya untuk saya tulis, dan saya bagikan kepada banyak orang.
Baiklah... selamat datang teman, selamat membaca
Jump up
Jump up
in the head
Malam ini, setelah sekian lama, saya berusaha untuk kembali menuangkan apa yang ada dalam kepala saya.
Kini saya hidup dalam lingkungan baru, rumah baru, tempat kerja baru, dengan keluarga kecil yang juga baru.
Yup, my new life journey has begun,
Sebagai awal,
Alhamdulillah, kini saya sudah berstatus double alias sudah menikah, buat saya itu adalah satu bab tersendiri
Kedua, kini saya juga menyandang predikat sebagai pegawai negeri sipil, di Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan..
Status saya yang terakhir inilah, yang menggugah minat saya untuk menulis,
menulis perjalanan saya, yang (sepertinya) akan sering, ke seantero nusantara.
Agri Journey, sengaja saya memilih nama itu (suami saya tepatnya)
karena di balik tugas yang saya emban pada saat dinas ke daerah, banyak sisi menarik yang menggelitik saya untuk saya tulis, dan saya bagikan kepada banyak orang.
Baiklah... selamat datang teman, selamat membaca
Kamis, 09 April 2009
Tuhan Tidak Bisa Berhitung
Menurut saya Tuhan sama sekali tak pandai berhitung. Begini sebabnya :
Ketika itu saya melakukan penelitian di sebuah Restoran Masakan Sunda di bilangan Cipinang. Saya berkenalan dengan salah satu penjaga parkir di sana. Seorang bapak tua, dengan perawakan kecil dan sedikit pendek. Kulitnya sudah keriput termakan usia, wajahnya menunjukkan perjuangannya melawan panas matahari yang terik sebagai tukang parkir. Biasanya dia hanya memakai kaos bergambar salah satu partai, dengan topi hijau setianya dan celana yang agak lusuh.
Sebelum masuk ke restoran, biasanya saya berbincang selama 5 sampai 10 menit dengan sang bapak. Dia bilang pemilik restoran ini agak pelit, dia tidak pernah diberi lebih selain uang parkir yang dia dapatkan dan upah seminggu yang sangat tidak mencukupi.
Suatu ketika dari rumah dengan tanpa niat apapun, saya mengambil 3 bungkus roti sobek dan 2 minuman kemasan dalam gelas, total Rp 2500,-
Saya berikan kepada sang bapak. Yang saya agak terkejut bapak tersbut sangat berterimakasih dengan pemberian saya, yang menurut saya tidak seberapa itu. Dengan perasaan tidak enak karena –menurut saya- rasa terimakasih itu berlebihan, saya segera melangkah masuk ke restoran
Ternyata hari itu ada seorang pejabat dari Penjara Lapas Cipinang yang bertandang ke situ. Terbentur kepentingan tugas skripsi, saya ajukan kuisioner juga kepada orang tersebut.
Dia sangat kagum, menurutnya sudah jarang orang yang mau benar-benar meneliti untuk buat sskripsi. Biasanya data asal, atau malah minta dibuatkan orang lain skripsinya.
Selesai mengajukan kuisioner, bapak tersebut memaksa untuk ditemani makan. Dia juga memberi saya uang Rp 50 000 dan memberi pulsa (jangan berpikir tidak baik ya).
Intinya kalau ditotal saya dapat Rp 75 000. Saya benar-benar tidak habis pikir, sampai saya pulang dan saya ceritakan hal ini kepada ibu saya. Dia bertanya memang saya pernah melakukan apa. Baru saya ingat tentang penganan yang saya berikan ke sang bapak.
Tuhan benar-benar tidak bisa berhitung, masa iya 2500 diganti 75000
Baik ya....
Ketika itu saya melakukan penelitian di sebuah Restoran Masakan Sunda di bilangan Cipinang. Saya berkenalan dengan salah satu penjaga parkir di sana. Seorang bapak tua, dengan perawakan kecil dan sedikit pendek. Kulitnya sudah keriput termakan usia, wajahnya menunjukkan perjuangannya melawan panas matahari yang terik sebagai tukang parkir. Biasanya dia hanya memakai kaos bergambar salah satu partai, dengan topi hijau setianya dan celana yang agak lusuh.
Sebelum masuk ke restoran, biasanya saya berbincang selama 5 sampai 10 menit dengan sang bapak. Dia bilang pemilik restoran ini agak pelit, dia tidak pernah diberi lebih selain uang parkir yang dia dapatkan dan upah seminggu yang sangat tidak mencukupi.
Suatu ketika dari rumah dengan tanpa niat apapun, saya mengambil 3 bungkus roti sobek dan 2 minuman kemasan dalam gelas, total Rp 2500,-
Saya berikan kepada sang bapak. Yang saya agak terkejut bapak tersbut sangat berterimakasih dengan pemberian saya, yang menurut saya tidak seberapa itu. Dengan perasaan tidak enak karena –menurut saya- rasa terimakasih itu berlebihan, saya segera melangkah masuk ke restoran
Ternyata hari itu ada seorang pejabat dari Penjara Lapas Cipinang yang bertandang ke situ. Terbentur kepentingan tugas skripsi, saya ajukan kuisioner juga kepada orang tersebut.
Dia sangat kagum, menurutnya sudah jarang orang yang mau benar-benar meneliti untuk buat sskripsi. Biasanya data asal, atau malah minta dibuatkan orang lain skripsinya.
Selesai mengajukan kuisioner, bapak tersebut memaksa untuk ditemani makan. Dia juga memberi saya uang Rp 50 000 dan memberi pulsa (jangan berpikir tidak baik ya).
Intinya kalau ditotal saya dapat Rp 75 000. Saya benar-benar tidak habis pikir, sampai saya pulang dan saya ceritakan hal ini kepada ibu saya. Dia bertanya memang saya pernah melakukan apa. Baru saya ingat tentang penganan yang saya berikan ke sang bapak.
Tuhan benar-benar tidak bisa berhitung, masa iya 2500 diganti 75000
Baik ya....
Lihat dari Dua Sisi
Saat ini saya bekerja di bagian regulatory staff, tugas saya adalah mendaftarkan produk-produk yang diproduksi pabrik tempat saya bekerja ke Badan POM.
Suatu pagi telepon berdering di meja saya. Di seberang sana adalah orang marketing, dia mengeluh sulitnya menembus peraturan-peraturan Badan POM mengenai apa-apa saja yang harus dan bisa ditampilkan di label. Label adalah bagian penghubung antara konsumen dan produsen, sebagai marketing tugasnya lah membuat desain label semenarik mungkin, dan kendalanya adalah peraturan.
Hari ini sekali lagi saya mendengar keluhan tentang Badan POM, dari seorang formulator. Orang yang tuganya membuat formulasi produk. Sulit sekali katanya “Badan POM maunya apa sih?”
Pernah pula suatu kali (sering kali kadang) di media massa baik televisi maupun media cetak kita dengar adanya produk-produk berbahaya di pasaran. Telinga saya menangkap seperti ini “Badan POM gimana sih, masa produk berbahaya gitu bisa dilolosin?”
Hmmm... membuatku tergelitik untuk berpikir.
Sebegitu ketatnya peraturan-peraturan di Badan POM saja banyak produk berbahaya bisa beredar di pasaran, apalagi kalau Badan Pom sangat longgar.
Itu yang saya katakan kepada orang marketing itu.
“Mba.. coba deh mba menempatkan diri jadi konsumen. Pasti khawatir kalau bayi nya makan-makan yang tidak jelas dan ternyata di label dan isinya tidak sesuai”
Sang marketing berdehem setuju. “Iya juga sih Mba.”
Yah.. hanya salah satu contoh. Dalam banyak hal ternyata seru kalau kita melihat dari berbagai sisi ketika masalah kita hadapi.
Suatu pagi telepon berdering di meja saya. Di seberang sana adalah orang marketing, dia mengeluh sulitnya menembus peraturan-peraturan Badan POM mengenai apa-apa saja yang harus dan bisa ditampilkan di label. Label adalah bagian penghubung antara konsumen dan produsen, sebagai marketing tugasnya lah membuat desain label semenarik mungkin, dan kendalanya adalah peraturan.
Hari ini sekali lagi saya mendengar keluhan tentang Badan POM, dari seorang formulator. Orang yang tuganya membuat formulasi produk. Sulit sekali katanya “Badan POM maunya apa sih?”
Pernah pula suatu kali (sering kali kadang) di media massa baik televisi maupun media cetak kita dengar adanya produk-produk berbahaya di pasaran. Telinga saya menangkap seperti ini “Badan POM gimana sih, masa produk berbahaya gitu bisa dilolosin?”
Hmmm... membuatku tergelitik untuk berpikir.
Sebegitu ketatnya peraturan-peraturan di Badan POM saja banyak produk berbahaya bisa beredar di pasaran, apalagi kalau Badan Pom sangat longgar.
Itu yang saya katakan kepada orang marketing itu.
“Mba.. coba deh mba menempatkan diri jadi konsumen. Pasti khawatir kalau bayi nya makan-makan yang tidak jelas dan ternyata di label dan isinya tidak sesuai”
Sang marketing berdehem setuju. “Iya juga sih Mba.”
Yah.. hanya salah satu contoh. Dalam banyak hal ternyata seru kalau kita melihat dari berbagai sisi ketika masalah kita hadapi.
Selasa, 10 Maret 2009
Ibuku Cerdik Sekali
Jakarta panas sekali. Seringkali saya melihat anak-anak kecil berlari-larian dengan semangatnya tanpa menghiraukan hawa panas ini. Seletih mereka bermain dan berlarian, biasanya yang pertama kali mereka serbu adalah warung warung jajanan, dan tukang es.
Sluurrrppp.... segaarrr rasanya setelah meneguk air es tersebut.
Ibuku adalah salah seorang yang menangkap dengan jeli peristiwa ini. Asal tahu saja, ide yang terlintas di kepala ibuku adalah dengan segera ia membeli sebuah freezer untuk membuat es batu. Padahal di rumah sudah ada dua.
Kata ibuku dari sebuah freezer ia bisa menjual es batu rata-rata sebanyak 20 buah es batu sehari jadi kira-kira Rp 10.000 bisa di dapat. Jika dalam satu bulan ada 30 hari, maka ia bisa mengantongi uang sebesar Rp 300.000. Kalau dibandingkan dengan penyewaan rumah (kontrakan)hampir sama. Sekitar rumahku harga sewa kontrakan berkisar 250 sampai 700 ribu per bulan. Kontrakan perlu lahan, harus berhubngan dengan penghuninya, belum lagi tidak jarang ada konflik jika ternyata sang penyewa agak mangkir membayar.
Nah... maka dari itu, ibuku membeli dua freezer, jadi dia punya dua kontrakan katanya
Hihihihi.... :)
Ibuku cerdik sekali
Sluurrrppp.... segaarrr rasanya setelah meneguk air es tersebut.
Ibuku adalah salah seorang yang menangkap dengan jeli peristiwa ini. Asal tahu saja, ide yang terlintas di kepala ibuku adalah dengan segera ia membeli sebuah freezer untuk membuat es batu. Padahal di rumah sudah ada dua.
Kata ibuku dari sebuah freezer ia bisa menjual es batu rata-rata sebanyak 20 buah es batu sehari jadi kira-kira Rp 10.000 bisa di dapat. Jika dalam satu bulan ada 30 hari, maka ia bisa mengantongi uang sebesar Rp 300.000. Kalau dibandingkan dengan penyewaan rumah (kontrakan)hampir sama. Sekitar rumahku harga sewa kontrakan berkisar 250 sampai 700 ribu per bulan. Kontrakan perlu lahan, harus berhubngan dengan penghuninya, belum lagi tidak jarang ada konflik jika ternyata sang penyewa agak mangkir membayar.
Nah... maka dari itu, ibuku membeli dua freezer, jadi dia punya dua kontrakan katanya
Hihihihi.... :)
Ibuku cerdik sekali
Senin, 09 Maret 2009
Are They Couple
Suatu hari saya bertiga dengan teman saya jalan ke sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Bekasi Barat. Setelah keliling-keliling beberapa lama, kami tiba di stand sepatu.
Agak lelah dan sedikit jenuh, saya duduk. Iseng, mata saya berkeliling melihat ke sekitar. Ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang menjajal sepatu. Sang perempuan sedikit memberi saran, dan sang lelaki bertanya "Bener bagus?"... "Bagus kok.." sang perempuan menjawab.
Grogi, malu-malu, itu yang terlihat dari ekspresi sang perempuan. Namun dengan usaha keras dia bisa menutupinya dari sang laki-laki. Mereka berusaha biasa.
Sang perempuan memanggil penjaga, membawa sepatu tersebut untuk ditukar dengan bon, dan embawanya kembali kepada sang laki-laki.
Hmmm... are they couple? Terlintas pertanyaan itu di benak saya. Sang perempuan jelas sekali ingin terlihat sebagai teman, tapi,,, sebagai perempuan juga sepertinya saya tahu kalau dia sedikit menaruh hati pada sang laki-laki.
Mereka berdua pun berjalan menjauh ke kasir. Agak berjauhan satu sama lain.
Are they couple?
Agak lelah dan sedikit jenuh, saya duduk. Iseng, mata saya berkeliling melihat ke sekitar. Ada sepasang laki-laki dan perempuan sedang menjajal sepatu. Sang perempuan sedikit memberi saran, dan sang lelaki bertanya "Bener bagus?"... "Bagus kok.." sang perempuan menjawab.
Grogi, malu-malu, itu yang terlihat dari ekspresi sang perempuan. Namun dengan usaha keras dia bisa menutupinya dari sang laki-laki. Mereka berusaha biasa.
Sang perempuan memanggil penjaga, membawa sepatu tersebut untuk ditukar dengan bon, dan embawanya kembali kepada sang laki-laki.
Hmmm... are they couple? Terlintas pertanyaan itu di benak saya. Sang perempuan jelas sekali ingin terlihat sebagai teman, tapi,,, sebagai perempuan juga sepertinya saya tahu kalau dia sedikit menaruh hati pada sang laki-laki.
Mereka berdua pun berjalan menjauh ke kasir. Agak berjauhan satu sama lain.
Are they couple?
Langganan:
Postingan (Atom)