Sabtu, 21 Februari 2009

Angkot ...oh Nasibmu

20 Februari 2009

Hari itu saya menginap di kosan teman di bilangin Pondok Ungu, Bekasi. Dengan demikian pagi hari saya ke kantor saya yang berada di Cakung menggunakan angkutan umum. Kebiasaan saya jika naik angkot saya lebih senang duduk di depan dekat supir, dan pagi itu kebetulan sopir angkot yang saya naiki adalah orang yang ramah. Sejak saya naik, dengan sumringah ia menyapa saya, dan mengajak saya berbincang-bincang.

Keluhan, itu yang terlontar dari laki-laki paruh baya berwajah bersahaja itu. Ia berkeluh sulit sekali mencari penumpang saat ini. Tidak hanya pagi ini, tetapi hampir setiap hari angkotnya sepi penumpang. Menurutnya menjadi supir di masa sekarang ini lebih sulit, beda dibandingkan saat masa kepemimpinan Suharto dulu. Kala itu dia bisa membawa sedikit uang lebih untuk keluarganya, kini terkadang ia harus menombok untuk menutupi uang setorannya. Menurutnya pula, saat ini sulit penumpang karena makin banyak yang memiliki motor. Mudah sekali kini memiliki motor, hanya dengan uang Rp 500 ribu sampai satu juta saja sudah bisa memiliki motor. Bahkan tanpa uang mukapun bisa memiliki motor dengan sistem kredit.

Ia berharap ada kebijakan pemerintah terhadap hal ini. Sambil menunjuk angkot-angkot lain yang juga sepi penumpang. Aku melirik ke arah yang dia tunjuk juga ke belakang, saat itu memang hanya ada dua orang penumpang di jok belakang dan saya sendiri.

Sambil mendengarkan cerita sang bapak pengemudi, saya sedikit berpikir. Sebagai pengendara motor, sebab saya juga pengendara motor, alasan utama kami adalah dengan mengendarai motor bisa fleksibel dalam menghadapi kemacetan. Kedua, dilihat dari waktu dan biaya, mengendarai motor bisa menjadi pilihan alternatif yang sangat membantu karena bisa menghemat waktu dan biaya. Dengan mengendarai motor, satu liter bensin bisa cukup untuk satu hari. Kenyaman angkutan umum yang kini kian diabaikan, juga salah satu alasan mengapa banyak orang memilih memiliki motor.

Namun kini memang terlihat carut marutnya aturan jalan raya, justru karena banyaknya pengendara motor. Dalam rangka memecah kemacetan, tidak jarang hak-hak pengguna jalan lain seperti pejalan kaki, terabaikan.

Pemerintah memang harus membuat keputusan. Bagaimapun pasti ada yang dikorbankan, namun sebagai gudangnya para pakar dari berbagai bidang pasti ada hal yang bisa diminimalisir jumlah yang dikorbankan tersebut.

Jika pembatasan kendaraan bermotor pribadi diberlakukan, akan berdampak pada industri otomotif dan kepercayaan investor. Dampak lain, adalah para pegawai yang menggantungkan hidup mereka. Sepupu saya yang bekerja di salah satu perusahaan sparepart otomotif mengatakan produksi mereka turun akibat krisis global. Terbayangkah jika pembatasan diberlakukan?

Dari segi ekologi, banyak kendaraan, memang juga sangat merusak. Contoh saja lingkungan Pulogadung dikala macet, luar biasa, manakala asap metromini, motor, truk-truk besar, belum lagi perusahaan-perusahaan industri pengecoran logam kala beroperasi. Sempurna !

Mana yang harus dipilih?
Para investor, para pengendara motor, para pengemudi, ekologi, tinggal kita tunggu ke depannya.

Saya hanya berharap yang terbaik.

"Pak,,, kiri Pak"
Untung saya sadar sebelum terlewat dari lokasi kantor saya... saya rogoh kocek saya, dan menyerahkan dua lembar ribuan "Terimakasih ya neng". Dan saya balas dengan senyuman,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar