Menurut saya Tuhan sama sekali tak pandai berhitung. Begini sebabnya :
Ketika itu saya melakukan penelitian di sebuah Restoran Masakan Sunda di bilangan Cipinang. Saya berkenalan dengan salah satu penjaga parkir di sana. Seorang bapak tua, dengan perawakan kecil dan sedikit pendek. Kulitnya sudah keriput termakan usia, wajahnya menunjukkan perjuangannya melawan panas matahari yang terik sebagai tukang parkir. Biasanya dia hanya memakai kaos bergambar salah satu partai, dengan topi hijau setianya dan celana yang agak lusuh.
Sebelum masuk ke restoran, biasanya saya berbincang selama 5 sampai 10 menit dengan sang bapak. Dia bilang pemilik restoran ini agak pelit, dia tidak pernah diberi lebih selain uang parkir yang dia dapatkan dan upah seminggu yang sangat tidak mencukupi.
Suatu ketika dari rumah dengan tanpa niat apapun, saya mengambil 3 bungkus roti sobek dan 2 minuman kemasan dalam gelas, total Rp 2500,-
Saya berikan kepada sang bapak. Yang saya agak terkejut bapak tersbut sangat berterimakasih dengan pemberian saya, yang menurut saya tidak seberapa itu. Dengan perasaan tidak enak karena –menurut saya- rasa terimakasih itu berlebihan, saya segera melangkah masuk ke restoran
Ternyata hari itu ada seorang pejabat dari Penjara Lapas Cipinang yang bertandang ke situ. Terbentur kepentingan tugas skripsi, saya ajukan kuisioner juga kepada orang tersebut.
Dia sangat kagum, menurutnya sudah jarang orang yang mau benar-benar meneliti untuk buat sskripsi. Biasanya data asal, atau malah minta dibuatkan orang lain skripsinya.
Selesai mengajukan kuisioner, bapak tersebut memaksa untuk ditemani makan. Dia juga memberi saya uang Rp 50 000 dan memberi pulsa (jangan berpikir tidak baik ya).
Intinya kalau ditotal saya dapat Rp 75 000. Saya benar-benar tidak habis pikir, sampai saya pulang dan saya ceritakan hal ini kepada ibu saya. Dia bertanya memang saya pernah melakukan apa. Baru saya ingat tentang penganan yang saya berikan ke sang bapak.
Tuhan benar-benar tidak bisa berhitung, masa iya 2500 diganti 75000
Baik ya....
Kamis, 09 April 2009
Lihat dari Dua Sisi
Saat ini saya bekerja di bagian regulatory staff, tugas saya adalah mendaftarkan produk-produk yang diproduksi pabrik tempat saya bekerja ke Badan POM.
Suatu pagi telepon berdering di meja saya. Di seberang sana adalah orang marketing, dia mengeluh sulitnya menembus peraturan-peraturan Badan POM mengenai apa-apa saja yang harus dan bisa ditampilkan di label. Label adalah bagian penghubung antara konsumen dan produsen, sebagai marketing tugasnya lah membuat desain label semenarik mungkin, dan kendalanya adalah peraturan.
Hari ini sekali lagi saya mendengar keluhan tentang Badan POM, dari seorang formulator. Orang yang tuganya membuat formulasi produk. Sulit sekali katanya “Badan POM maunya apa sih?”
Pernah pula suatu kali (sering kali kadang) di media massa baik televisi maupun media cetak kita dengar adanya produk-produk berbahaya di pasaran. Telinga saya menangkap seperti ini “Badan POM gimana sih, masa produk berbahaya gitu bisa dilolosin?”
Hmmm... membuatku tergelitik untuk berpikir.
Sebegitu ketatnya peraturan-peraturan di Badan POM saja banyak produk berbahaya bisa beredar di pasaran, apalagi kalau Badan Pom sangat longgar.
Itu yang saya katakan kepada orang marketing itu.
“Mba.. coba deh mba menempatkan diri jadi konsumen. Pasti khawatir kalau bayi nya makan-makan yang tidak jelas dan ternyata di label dan isinya tidak sesuai”
Sang marketing berdehem setuju. “Iya juga sih Mba.”
Yah.. hanya salah satu contoh. Dalam banyak hal ternyata seru kalau kita melihat dari berbagai sisi ketika masalah kita hadapi.
Suatu pagi telepon berdering di meja saya. Di seberang sana adalah orang marketing, dia mengeluh sulitnya menembus peraturan-peraturan Badan POM mengenai apa-apa saja yang harus dan bisa ditampilkan di label. Label adalah bagian penghubung antara konsumen dan produsen, sebagai marketing tugasnya lah membuat desain label semenarik mungkin, dan kendalanya adalah peraturan.
Hari ini sekali lagi saya mendengar keluhan tentang Badan POM, dari seorang formulator. Orang yang tuganya membuat formulasi produk. Sulit sekali katanya “Badan POM maunya apa sih?”
Pernah pula suatu kali (sering kali kadang) di media massa baik televisi maupun media cetak kita dengar adanya produk-produk berbahaya di pasaran. Telinga saya menangkap seperti ini “Badan POM gimana sih, masa produk berbahaya gitu bisa dilolosin?”
Hmmm... membuatku tergelitik untuk berpikir.
Sebegitu ketatnya peraturan-peraturan di Badan POM saja banyak produk berbahaya bisa beredar di pasaran, apalagi kalau Badan Pom sangat longgar.
Itu yang saya katakan kepada orang marketing itu.
“Mba.. coba deh mba menempatkan diri jadi konsumen. Pasti khawatir kalau bayi nya makan-makan yang tidak jelas dan ternyata di label dan isinya tidak sesuai”
Sang marketing berdehem setuju. “Iya juga sih Mba.”
Yah.. hanya salah satu contoh. Dalam banyak hal ternyata seru kalau kita melihat dari berbagai sisi ketika masalah kita hadapi.
Langganan:
Postingan (Atom)